Bintang

•4 November 2009 • Leave a Comment

Bintang, entah berjuta nan bertaburan di atap dunia ini. Malam adalah ayah bagi mereka, bulan bagaikan ibu dari anak-anak bintang. Kilau cahaya nan menghiasi sang keluarga malam, sungguh hanyalah KuasaNya kerukunan keluarga malam tercipta. Cerahnya suasana malam ini begitu meneduhkan hati, pemandangan yang tak terukirkan dengan nilai manusia yang enggan mempedulikan mereka. Tak sadarkan diri manusia yang selalu mengagungkan dirinya terhadap kecintaan duniawi.

Jika ku mampu untuk menghitung mereka yang telah hadir menemani malam dan sang bulan, akankah aq mampu? Tidak, aku tak sanggup tuk menghadirkan mereka dalam ilmu matematika manusiaku. Entah hadir mereka sungguh bermakna dalam malamku saat ini. Hati ini riuh ceria memandang keindahan mereka, aku bangga dapat menikmati kilauan cahayanya yang memperindah langit duniaku.

Nampak sebuah dari sekumpulan mereka yang menarik hatiku, indah menyendiri, jauh dari kawanan mereka. Bintang itu sendiri, menyepi, terpisah dari saudaranya. Entah mengapa ia terus menarik hatiku, sinarnya yang nampak mencoba mengisi ruang yang lebih luas dari kawanan lainnya, mencoba tuk terangi malam walau sendiri dia tetap menjalankan tugasnya menyinari langit malam.

Entah tersadar diri memandang sang bintang penyendiri itu hingga tak lagi kupandang dirinya. Kemanakah ia pergi? apakah ia mencoba berkumpul dengan saudara-saudaranya? ataukah ia lelah menyinari lingkaran tanggung jawabnya? Ku tajamkan pandanganku ke arah dimana diri ini sempat terperangah akan kemandiriannya sang satu bintang penyendiri. Ribuan kali ku coba tuk mencari dimana bintang itu berdiri dengan setia.

Bintang penyendiri kemanakah dirimu? aku butuh dirimu tuk temani aku malam ini. Tunjukan dirimu wahai ksatria cahaya nan gagah berani. Hati ini resah harap menatap kedewasaanmu dalam kesendirianmu. Kau telah pergi, tapi apakah saudaramu tak merasa kehilangan? Tak kulihat mereka mencarimu, saudara-saudaramu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing tuk menghiasi langit malam ini.

Wahai bintang ksatria penyendiri, kembalilah, hadirkanlah sinarmu nan mempesonakan aku malam ini, jangan kau tinggalkan diri ini sendiri. Aku disini rindukanmu, merindukan sinar cahayamu yang menjadi inspirasi hati ini, jiwa ini. Walau mereka tak hiraukan dirimu, aku disini akan tetap merindukamu dan mengenangmu wahai bintang ksatria penyendiri.

fht/01.44/031109

Tercipta Untukku

•24 September 2009 • Leave a Comment

entah manisnya dan pahitnya tuk ku
rasakan sesak tuk rasakan keduanya
pilukan sang hati terhempas

diam, diam lelah tuk diam
arah mana ku pijakan langkah
terisakkan kalbu pekat

yach kau dan kau
berikan nur asa fikir
kecapkan luka nan letih

tak inginku seperti ini
tak inginku sesak ini
entah kemana aku ini

aku adalah aku
bukan aku adalah kau
atau kau adalah aku

kemanakah angin terhembus
menuju mana air mengalir
ku tak tahu jika tetap ini

maaf diri terlalu
entah cinta atau benci
akan dirimu atau diriku

ini tercipta untukku
tak akan habis karena
ini memang tercipta untukku

fht, 1999 – sekarang rasakan semua ini

Toleransi Nabi dalam Berdakwah

•24 September 2009 • Leave a Comment

Sedang Nabi Muhammad saw duduk bersama para sahabat, muncul seorang pemuda berjumpa Nabi lalu berkata “Izinkanlah saya untuk berzina.” Mendengar perkataan yang biadab itu, sahabat-sahabat terpinga-pinga dan merasa marah.

Namun Nabi Muhammad bersikap tenang dan melayan dengan baik. Baginda menyuruh pemuda itu hampir kepadanya lalu bertanya “Mahukah engkau berzina dengan ibumu?” Pemuda itu menjawab “Tidak!”. Lantas Nabi bersabda “Kalau begitu, orang-orang lain juga tidak suka berbuat jahat kepada ibu-ibu mereka.” Nabi kemudian mengajukan soalan kedua “Sukakah kamu berbuat jahat dengan saudara perempuanmu sendiri? atau sukakah kamu sekiranya isteri kamu dinodai orang?” Kesemua soalan itu dijawab oleh pemuda itu dengan “Tidak!”.

Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang mulia ke atas pemuda itu sambil berdoa “Ya Allah, sucikanlah hati pemuda ini. Ampunkanlah dosanya dan peliharakanlah dia dari melakukan zina.” Sejak peristiwa itu, tiadalah perkara yang paling dibenci oleh pemuda itu selain zina.

Moral & Iktibar

Sifat berlemah-lembut dan toleransi amat perlu ada dalam setiap pendakwah.
Sifat lemah-lembut kunci bagi kejayaan dakwah.
Sifat toleransi merupakan satu rahmat dan pemberian Allah yang bersifat dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Perkataan yang kasar dan kesat bukan menghampirkan orang lain kepada kita malah akan menjauhkannya lagi.
Sebelum melakukan sesuatu perkara, perlulah bermesyuarat atau berbincang (bertukar-tukra fikiran) dengan orang lain.
Jauhkan bertindak mengikut hawa nafsu kerana ia datang dari syaitan.
Kemukakanlah soalan kepada orang lain walaupun soalan itu kemungkinan tidak ada logiknya; sementara orang yang ditanya pula berikanlah layanan yang sepatutnya dengan ikhlas.
Berikanlah nasihat atau teguran kepada orang yang memerlukan namun teguran itu hendaklah dilakukan dengan ihsan kerana Allah semata-mata semoga orang yang berkenaan tidak berasa diperhinakan dan terus menerus terbiar menjadi mangsa syaitan.
Berdakwah dengan hikmah memberikan kesedaran dan keinsafan kepada orang yang didakwah.