Mahasiswa Vs Aparat Kepolisian

Entah sekian kalinya diri membaca judul dari beberapa media cetak maupun media elektronik. Apakah aneh? sepertinya hal ini telah terlalu tak asing lagi. Jika boleh sedikit memundurkan waktu beberapa bulan yang lalu, Polisi tengah memperbaiki citranya di mata masyarakat Indonesia. Oknum-oknum tak bertanggung jawab banyak sekali menyalahgunakan kekuasaan sebuah kata yaitu Polisi, yang berakibat kurang percayanya masyarakat terhadap pihak Kepolisian Republik Indonesia.

Demo, demo dan demo. Inikah Indonesia? Mahasiswa terluka, begitu pula dengan beberapa anggota kepolisian. Siapakah yang salah?
Mahasiswa? Benar, kenapa? Bisakah demo ataupun unjuk rasa tanpa mengganggu ketertiban umum dan merusak fasilitas umum? Anda harusnya lebih berfikir siapakah yang diuntungkan jika Anda merusak? Mereka yang hanya duduk manis merasakan hasil dari kerja keras Anda, yaitu Proyek Perbaikan Fasilitas Umum. Paham!
Polisi? Benar, mengapa? Bisakah Anda meredam emosi Mahasiswa tanpa harus melakukan kekerasan? Saya yakin Andalah yang mampu.
Tapi apakah cuma kedua belah pihak yang memiliki andil kesalahan?
Tidak. Ada satu lagi pihak yang Luar Biasa Salahnya. Yaitu Pemerintah.
Jika ditarik kesimpulan berkat ide-ide/keputusan-keputusan Pemerintahlah yang seakan dan jelas sekali telah mengadu domba antara Mahasiswa dengan Aparat Kepolisian. Jadi sudah seharusnya Pemerintah Malu, Seakan takut menghadapi efek samping dari hasil kerja keras mereka yang tak kunjung bangkitkan negara ini. Malah bersembunyi dibelakang Aparat yang sebenarnya pun tak ingin terjadinya adu fisik dengan para Mahasiswa. Terlalu……!!!
Pemerintah cobalah sedikit arif dan bijaksana. Mahasiswa punya tugas untuk menuntut ilmu bukan untuk selalu mengingatkan Anda-anda. Pihak Kepolisian pun tidak hanya mengurus Anda-anda saja, karena Kepolisian itu ada untuk melindungi masyarakat, dan itu jauh lebih penting daripada melindungi Anda-anda yang telah dibutakan oleh kata kedudukan dan jabatan yang tak menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk masyarakat.

Kemanakah slogan : “Dari rakyat, Untuk Rakyat dan Oleh rakyat!”

Saya hanyalah orang yang coba tuk ungkapkan kekesalan kepada semua pihak yang tak ingin hadirkan kedamaian, kemakmuran di negeri yang pernah dianggap sebagai negeri yang memiliki adat sopan santun yang baik.

KPK dan Angpaw

Entah beberapa hari yang lalu, tak sengaja melihat sebuah pembicaraan yang nyeleneh. KPK ingin menyelidiki mengenai uang Angpaw dalam Acara Pernikahan Putri Sultan Yogyakarta. Dibicarakan berapa biaya yang dikeluarkan dan mengenai kiriman bunga yang menurutnya harganya terlalu besar. Dan lebih mencengangkan dibahas pula berapa pendapatan dari uang angpaw acara tersebut.
Luar biasa, mengapa hal tersebut harus di besar-besarkan? Kenapa pernikahan di Istana Negara tidak coba di selidiki juga. Adilkah……………?

Kemana Arah Fikir Indonesia

“Capek saya hidup…!” terucap dari seorang masyarakat yan terlampau sangat miskin. Sebuah kata-kata yang tak sengaja saya dengar saat saya mengisi bensin di sebuah SPBU di Cirebon. Entah kenapa saya penasaran akan sebuah kata-kata yang terdengar sendu dengan penuh amarah.
Penasaran ini terjawab sudah setelah kubertanya dan berbincang dengan seorang bapak yang mengatakan hal tadi. Menurut pengakuannya, Bapak dari 3 orang anak ini kesal dan letih akan ekonomi keluarganya yang tidak beranjak dari sebuah kata, yaitu kekurangan. Penghasilan dari berjualan roti ke warung-warung kecil, tak cukup untuk menutupi beban yang di hadapinya. “Apalagi saat ini Bensin akan naik …!” ujar bapak tersebut. {STOP}
Panjang jika diri ceritakan segala penuturannya.

Entah berapa banyak keluarga-keluarga yang mengalami hal tersebut. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah saat ini cukup dianggap kurang tepat. jika ingin diulas sedikit ada beberapa contoh, seperti :
1. Dengan alasan mengurangi subsidi BBM yang salah sasaran, BBM dinaikan.
2. Dirasa Rakyat akan mengamuk Pemerintah mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai.
3. Merasa melihat rakyat kurang puas Pemerintah menghadirkan Bantuan Operasional Sekolah.
4. Lebih merasa takut lagi akan kemarahan warga Pemerintah lagi-lagi mengeluarkan Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin
5. Dan kini hadir lagi dengan alasan Minyak dunia naik harganya.

Maaf bila seorang bodoh seperti saya ikut bicara. Adakah pikiran yang lebih dewasa. Coba resapi untuk alasan Pemberian Bantuan Langsung Tunai, alangkah lebih baiknya jika mereka diberi pekerjaan bukannya diberikan Uang langsung. Hal ini tidak mendidik bangsa, Kebiasaan tangan dibawah ini akan berlanjut ke generasi yang selanjutnya.

Bantuan Opersional Sekolah pun tidak terlalu difikirkan matang-matang, atau terlalu matang hingga tak difikirkan apa yang akan terjadi dibelakangnya. Ingat Guru PNS dan Guru Honorer itu lebih banyak mana. Bagi yang PNS perbulan dapat menerima gaji pasti. Lalu Guru Honorer, darimana gaji jika sekolah tidak mengambil dana dari siswa. BOS itu tidak cair pada setiap tanggal 1 setiap bulannya. Berapa lama dana BOS cair…..? 3-6 bulan, mau makan apa Guru Honorer…?

Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin. Apakah berjalan dengan baik? menurut corat-coret sang pembuatnya berjalan tanpa kendala. Tapi apa Ia  tak tengok ke Lapangan, banyak sekali Rumah Sakit yang menolak hadirnya Gakin yang datang untuk berobat. Dengan alasan klaim belum dibayar mereka menolak. Apakah begini negara Indonesiaku???

Entah berapa banyak lagi kebijakan yang hadir di tangan-tangan yang tidak dalam jangkauannya. Jika bukan ahlinya jangan berani memegang suatu jabatan atau posisi. Ingat yang Anda pegang adalah Amanat.

Dibawah ini mungkin sedikit Kriteria yang perlu dipertimbangkan untuk memilih sebuah Team Work yang baik.

Menteri Perhubungan : Minimal pernah menjadi supir angkot
Menteri Pendidikan : Minimal pernah menjadi guru honorer 5 tahun.
Menteri Kesehatan : Minimal menjadi bidan/mantri sunat.
Menteri Dagang dan Industri : Minimal pernah dagang di pasar Inpres 3 tahun dan pernah menjadi buruh pabrik 3 tahun
Menteri yang lainnya pun sama saja, minimal dia pernah berada di posisi paling bawah dari suatu pekerjaan.

Hal diatas adalah sebagai Praktek Kerja Industri atau Dunia Kerja, biar paham apa saja yang dibutuhkan masyarakat.