Kemana Arah Fikir Indonesia

“Capek saya hidup…!” terucap dari seorang masyarakat yan terlampau sangat miskin. Sebuah kata-kata yang tak sengaja saya dengar saat saya mengisi bensin di sebuah SPBU di Cirebon. Entah kenapa saya penasaran akan sebuah kata-kata yang terdengar sendu dengan penuh amarah.
Penasaran ini terjawab sudah setelah kubertanya dan berbincang dengan seorang bapak yang mengatakan hal tadi. Menurut pengakuannya, Bapak dari 3 orang anak ini kesal dan letih akan ekonomi keluarganya yang tidak beranjak dari sebuah kata, yaitu kekurangan. Penghasilan dari berjualan roti ke warung-warung kecil, tak cukup untuk menutupi beban yang di hadapinya. “Apalagi saat ini Bensin akan naik …!” ujar bapak tersebut. {STOP}
Panjang jika diri ceritakan segala penuturannya.

Entah berapa banyak keluarga-keluarga yang mengalami hal tersebut. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah saat ini cukup dianggap kurang tepat. jika ingin diulas sedikit ada beberapa contoh, seperti :
1. Dengan alasan mengurangi subsidi BBM yang salah sasaran, BBM dinaikan.
2. Dirasa Rakyat akan mengamuk Pemerintah mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai.
3. Merasa melihat rakyat kurang puas Pemerintah menghadirkan Bantuan Operasional Sekolah.
4. Lebih merasa takut lagi akan kemarahan warga Pemerintah lagi-lagi mengeluarkan Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin
5. Dan kini hadir lagi dengan alasan Minyak dunia naik harganya.

Maaf bila seorang bodoh seperti saya ikut bicara. Adakah pikiran yang lebih dewasa. Coba resapi untuk alasan Pemberian Bantuan Langsung Tunai, alangkah lebih baiknya jika mereka diberi pekerjaan bukannya diberikan Uang langsung. Hal ini tidak mendidik bangsa, Kebiasaan tangan dibawah ini akan berlanjut ke generasi yang selanjutnya.

Bantuan Opersional Sekolah pun tidak terlalu difikirkan matang-matang, atau terlalu matang hingga tak difikirkan apa yang akan terjadi dibelakangnya. Ingat Guru PNS dan Guru Honorer itu lebih banyak mana. Bagi yang PNS perbulan dapat menerima gaji pasti. Lalu Guru Honorer, darimana gaji jika sekolah tidak mengambil dana dari siswa. BOS itu tidak cair pada setiap tanggal 1 setiap bulannya. Berapa lama dana BOS cair…..? 3-6 bulan, mau makan apa Guru Honorer…?

Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin. Apakah berjalan dengan baik? menurut corat-coret sang pembuatnya berjalan tanpa kendala. Tapi apa Ia  tak tengok ke Lapangan, banyak sekali Rumah Sakit yang menolak hadirnya Gakin yang datang untuk berobat. Dengan alasan klaim belum dibayar mereka menolak. Apakah begini negara Indonesiaku???

Entah berapa banyak lagi kebijakan yang hadir di tangan-tangan yang tidak dalam jangkauannya. Jika bukan ahlinya jangan berani memegang suatu jabatan atau posisi. Ingat yang Anda pegang adalah Amanat.

Dibawah ini mungkin sedikit Kriteria yang perlu dipertimbangkan untuk memilih sebuah Team Work yang baik.

Menteri Perhubungan : Minimal pernah menjadi supir angkot
Menteri Pendidikan : Minimal pernah menjadi guru honorer 5 tahun.
Menteri Kesehatan : Minimal menjadi bidan/mantri sunat.
Menteri Dagang dan Industri : Minimal pernah dagang di pasar Inpres 3 tahun dan pernah menjadi buruh pabrik 3 tahun
Menteri yang lainnya pun sama saja, minimal dia pernah berada di posisi paling bawah dari suatu pekerjaan.

Hal diatas adalah sebagai Praktek Kerja Industri atau Dunia Kerja, biar paham apa saja yang dibutuhkan masyarakat.

Advertisements

3 comments on “Kemana Arah Fikir Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s