Pasuruan Amal berdarah

Entah berpola fikir apa yang hadir pada bangsa ini. 21 orang meninggal hanya karena memperebutkan Rp. 30.000,00 ini pun berita terakhir yang didapatkan. Masih banyak yang mengalami luka-luka serius.

Sebagai umat Muslim, Crew3utama merasa kecewa dengan hadirnya berita yang sangat memilukan ini. Dibulan yang penuh barokah ini ternyata di nodai dengan kehadiran sebuah berita tragis.

Memang jika ingin menyalahkan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini adalah semua pihak. Tokoh utamanya yang pasti adalah sang pemberi shadaqoh itu sendiri berikut panitia pembagiannya. Indonesia memiliki Pelayan Masyarakat (Polisi) yang dapat membantupun tidak dilibatkan.

Indonesia sebenarnya sungguh mengerti ada yang dapat membantu dalam penyaluran minat amal ataupun penyaluran zakat. BAZIS (Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh) telah berdiri lama di Republik ini. Tetapi jarang sekali para dermawan yang menggunakannya sebagai penyalur Zakat, Infaq dan Shadaqohnya.
Memberikan langsung kepada yang berhak memang baik akan tetapi alangkah lebih baiknya jika tidak menimbulkan korban pada yang menerimanya.
Mereka datang untuk harapan yang baik bukan melainkan meregang nyawa saat berebutan harta yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan nyawa.
Hal ini dapat diambil kesimpulan dari seorang yang lugu sekalipun adalah Riya. Yaitu pamer akan tindakan yang baik agar dapat dipandang sebagai nilai tambah untuk sang Pendermanya.

Advertisements

Kontroversi Peran Banci

Fikiran orang saat ini selalu saja pintar mencari bahan permasalahan yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan.
Peran banci di Indonesia, telah hadir jauh sebelum orang-orang yang memasalahkan itu hadir dimuka bumi ini. Lebih hebatnya lagi mereka mengatakan bahwa ini merusak moral Bangsa Indonesia.


Apakah mereka yang memasalahkan itu adalah benar Bangsa Indonesia? Coba tengok sebuah kesenian dari daerah Jawa Timur. Ludruk, adalah sebuah kesenian yang berbentuk drama yang berisikan tarian dan dialog. Dimana semua pemainnya adalah laki-laki. Apakah kesenian ini juga harus di hapuskan?

Beberapa tayangan televisi yang menampilkan tokoh banci hanyalah sebagai bukti contoh bahwa dimasyarakat kita keberadaan mereka itu real nyata. Maksudnya untuk pengetahuan pendidikan sebuah bangsa. jika ada anak yang melihat dan mengikuti ini bukan kesalahan murni pemerintah yang mengizinkan tayangan tersebut. Tapi dimana peran orang tua anak yang harusnya mampu menjelaskan mengenai tokoh banci tersebut.

Beberapa artis yang memerankan peran banci, tak semuanya di kehidupan pribadinya menjadi seperti tokoh yang di perankannya. Contoh Tessy, Dia memiliki keluarga dan memiliki anak. Apakah hal ini tidak menjadi pertimbangan?

Jika berbicara mengenai Agama, memang hal seperti ini dianggap adalah hal yang kurang pantas. Setiap agama tidak ada yang mengajarkan umatnya untuk memilih jalan menjadi seorang banci.

Ini adalah skenario kehidupan dimana banyak sisi yang saling berseberangan dan hal ini wajar. Tetapi untuk melarang hal tersebut tidakkah Anda fikirkan seorang artis hanyalah seorang yang berperan untuk menjadi tokoh untuk menghidupi keluarga dan dirinya.

Dalam Islam ada Hubungan dengan Allah Swt dan ada Hubungan dengan sesama manusia.

Crew3utama hanyalah manusia biasa yang melihat kepintaran beberapa orang yang terkesan terlalu membesar-besarkan masalah.

Coba anda tengok Televisi Pendidikan Indonesia yang menampilkan adegan perkosaan ataupun adegan kekerasan yang dibuat-buat pada beberapa sinetron religi. Apakah ini tidak menimbulkan masalah?
atau beberapa stasiun televisi swasta lain yang Menampilkan acara dangdut dengan goyangan yang berbau pornografi dan pornoaksi?
Apakah ini tidak mendapat respon negatif?

Banci dalam sebuah peran adalah hanyalah sebatas untuk humor semata dan jika Anda lebih arif lagi dapat juga dijadikan pendidikan anak bangsa untuk menjadi referensi bahwa ini adalah kehidupan dimana ada yang perlu dicontoh dan tidak untuk dicontoh!