Biru Itu ……………….

Jika dapat kuberkaca pada masa lalu, alangkah betapa bodohnya seorang diri. Agustus 1999 ku kenal engkau, cantik serta anggun hingga tak seorang pun segan mendekatimu. Ehmmmm ku jatuh cinta? maaf. Bosan, penat, kesal hingga lelah hilang ketika berbicara denganmu. Tapi maaf! ku tak suka padamu.
2000 kukenal lebih jauh lagi, tetap maaf siapa kamu. Sombong memang diri, tapi memang demikian. Walau ku selalu coba ceriakanmu dan buatmu tertawa tetap saja tak hadirkan rasa. Hingga sebuah kasus tercipta, maafkan aku tak tahu kalau kau miliki itu. Bersalahku selalu pada dirimu.

Entah apa ini rasa yang selama ini mereka rasakan pada setiap lawan jenis? ku berfikir mungkin aku jatuh cinta. Melihatmu buatku bahagia, senang dan tenang. Imagiku selalu terbuai dengan rasa itu, diri tak lagi sama dengan masa lalu, entah ku tersangkut pada rasa yang tak dapat terdefinisikan dengan baik untukku.

Kamu memang sadar bahwa ku tak baik bagimu, terima kasih. Memang aku terlalu rusak bagimu yang seorang “Wah” tentang segalanya, tapi sadarkah kamu betapa lelahnya ku iyakan perkataanmu hingga diri menjadi “Gila”
Ku kira kusalah selama ini berfikir ku miliki rasa itu, Sadarku jauh terlambat, Sadar diri ini hanya merasa bersalah padamu atas semua yang kulakukan pada dirimu yang tek pernah berkata sesuatu mengenai deritamu. Selama ini ku hanya sebatas sayang bukan seperti yang pernah ku fikir selama 8 tahun. Yach bagiku kata Sayang lebih tepat karna ku tak kasih padamu.

Maaf tak ada kata yang dapat diperbaiki lagi, kau terlalu ……. untuk kuterima. entah sebatas dekat terlebih lebih dekat lagi. Ku harap kau secepatnya sadar akan segala yang kau lakukan pada beberapa kaumku, Bagus memang memecahkan sebuah team yang solid hingga menjadi kepingan-kepingan kecil seperti kini. Terima kasih telah ajarkan diri dan pasukanku akan makna “Pecah belah”.

Sejujurnya ku tak tega untuk tinggalkan dirimu yang tlah ditinggalkan pasukanku, tapi hingga kau sadar pun akan sulit bagi seorang tuk sembuhkan luka yang terlalu dalam. Kau pernah berkata “Gusti Allah Maha Pemaaf, kenapa kita yang manusia tak dapat saling memaafkan?” Ku harap kau sadar akan kata ini yang sering kau sebutkan.
Kau sendiri didalam keheningan itu, nikmatilah, reguklah rasa betapa nikmatnya kesendirian yang kau hadirkan dan kau ciptakan sendiri dengan segala ego milikmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s